Did You Know peterMartyrBellini

Published on June 1st, 2011 | by yokayoka

0

Kisah Martir

I. PARA MARTIR KRISTEN MULA-MULA

* Yohanes 15:18-20
15:18 “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.
15:19 Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.
15:20 Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.

Saksi/ kesaksian, Ibrani ‘ANA (harfiah,’menjawab’), Yunani ‘martureo’, dan kata-kata yg berakar padanya martus, marturia dan marturion. Saksi ialah orang yg memberi kesaksian tentang sesuatu yg ia sendiri telah melihatnya. Kesaksian adalah tanggung jawab berat, teristimewa dalam kasus yg diancam dengan hukuman mati. Apabila terbukti tertuduh bersalah, maka para saksi memimpin regu pelaksana hukuman mati itu (lihat Kisah 7:58 ).

Para rasul adalah saksi-saksi utama tentang hidup dan kebangkitan Kristus (Yohanes 21 :24; Kisah 1 :22; 2 Petra 1 :6). Dalam gereja purba kata Yunani “martus” menjadi terbatas, terutama untuk menyebut mereka yg setia kepada imannya kendati sampai mati sekalipun. Penggunaan kata itu dalam arti demikian dikenal di Indonesia sebagai martir. Dalam dunia Kristen modern, ‘kesaksian’ berarti cerita tentang apa yg dikerjakan Kristus atas hidup seseorang, menjadi pengalaman pribadi orang itu.

Sebagian besar dari kita mungkin telah menikmati keuntungan atau kenyamanan sebagai umat Kristiani sehingga kita seringkali melupakan orang-orang percaya yang penuh keberanian yang sedemikian banyak telah mempertaruhkan hidupnya demi Kekristenan. Darah para martir/saksi itu telah mengairi ladang, menghasilkan tuaian, dan mempercepat pertumbuhan kekristenan di seluruh dunia.

Dalam Matius 16:18 dicatat bahwa Yesus memberi tahu murid-murid, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut [Hades] tidak akan menguasainya.” Tiga hal utama yang bisa dicatat dalam kata-kata Yesus ini:

1. Kristus akan mendirikan jemaat di dunia ini;
2. Jemaat-Nya akan diserang dengan dahsyat;
3. Tidak satu pun serangan si jahat yang akan menghancurkanjemaat-Nya.

Jika menengok ke be1akang sepanjang sejarah gereja, kita bisa melihat bahwa kata-kata Yesus telah digenapi di setiap abad – sejarah gereja yang mulia membuktikan firmanNya.

Pertama, tanpa diragukan ada gereja Kristus yang sejati dalam dunia ini. Kedua, setiap tingkat pemimpin keagamaan dan sekuler beserta bawahan mereka secara terbuka serta dengan kekuatan penuh dengan setiap sarana yang licik dan penuh tipu daya dalam tindakan mereka, mencela serta menganiaya gereja yang benar itu. Ketiga, gereja telah bertahan dan memegang kesaksian mereka tentang Kristus melalui setiap serangan yang dilakukan terhadapnya. Perjalanan gereja menembus badai yang disebabkan oleh kemarahan dan kebencian yang hebat sangat mulia untuk dilihat serta banyak kisah sejarahnya telah dicatat sehingga karya Allah yang ajaib hanya bagi kemuliaan Kristus dan pengetahuan tentang pengalaman para martir gereja bisa memberikan dampak yang positif bagi para pembacanya serta memperkuat iman mereka.

Kisah Martir

Orang pertama yang menderita bagi gereja adalah Yesus sendiri – bukan sebagai martir, tentu saja, tetapi sebagai inspirasi dan sumber semua kemartiran. Kisah penderitaan dan penyaliban – Nya dikisahkan dalam Alkitab dengan sangat baik sehingga kita tidak perlu menuliskannya di sini. Cukup dikatakan bahwa kebangkitan-Nya setelah itu mengalahkan niat orang-orang Yahudi dan memberikan keberanian serta arah yang baru; dan menyegarkan bagi murid-rnurid-Nya. Dan setelah mereka menerima kuasa Roh Kudus pada hari Pentakosta, mereka selanjutnya dipenuhi dengan keyakinan dan keberanian yang mereka butuhkan untuk memberitakan nama-Nya. Keyakinan dan keberanian mereka yang baru, benar-benar membingungkan para pemimpin Yahudi serta mengejutkan semua orang yang mendengarnya.

1. Stefanus

Orang kedua yang menderita dan mati bagi gereja adalah Stefanus, yang namanya berarti “mahkota” (Kisah Para Rasul 6-8 ). Ia menjadi martir karena memberitakan Injil kepada orang-orang yang telah membunuh Yesus dengan setia. Mereka menjadi begitu marah mendengar hal yang ia katakan kepada mereka sehingga mereka mendorongnya keluar kota dan melemparinya dengan batu sampai mati. Kemartiran Stefanus terjadi 8 tahun setelah penyaliban Tuhannya. Itu berarti kematiannya terjadi pada tahun 35 M karena sesungguhnya Yesus dianggap lahir pada tahun 6 S.M. sekitar dua tahun sebelum Herodes Agung mati pada tahun 4 S.M. (lihat Matius 2:16).

Kebencian yang sama akibat kebencian mereka terhadap Stefanus menyebabkan timbulnya penganiayaan besar terhadap semua orang yang mengaku percaya kepada Kristus sebagai Mesias. Lukas mencatat, “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” (Kisah Para Rasul 8:1). Selama waktu itu, sekitar 2.000 orang Kristen menjadi martir, termasuk Nikanor, satu dari tujuh diaken yang diangkat gereja (Kisah Para RasuI6:5).

Kisah Martir

2. Yakobus

Yakobus anak Zebedeus dan Salome merupakan kakak rasul Yohanes. Ia adalah rasul pertama yang menjadi martir dari antara 12 rasul (Kisah Para Rasul 12:2). Ia dihukum mati sekitar tahun 44 M oleh perintah Raja Herodes Agrippa I dari Yudea. Kemartirannya menjadi penggenapan dari hal yang di¬ramalkan Yesus ten tang ia dan saudaranya Yohanes (Markus 10:39).

Penulis terkenal, Clemens Alexandrinus, menulis bahwa ketika Yakobus dibawa menuju tempat eksekusinya, keberaniannya yang luar biasa menimbulkan kesan yang mendalam pada satu orang yang menangkapnya sehingga ia jatuh berte1ut di depan rasul itu, meminta ampun kepadanya, dan mengaku bahwa ia adalah orang Kristen juga. Ia berkata bahwa Yakobus jangan mati sendiri akibatnya mereka berdua dipenggal kepalanya.

Pada saat itu, Timon dan Parmenas, dua dari tujuh diaken, dihukum mati – yang satu di Filipi, yang lain di Makedonia.

3. Philipus

Ia lahir di Bethsaida, daerah Galilea. Tepat 10 tahun setelah kematian Yakobus, pada tahun 54 M Rasul Filipus dikatakan te1ah dihukum cambuk dan dilemparkan ke dalam penjara serta kemudian disalibkan di Hierapolis di Phrygia.

4. Matius

Hanya sedikit yang diketahui ten tang akhir hidup Rasul Matius, kapan dan bagaimana cara kematiannya, tetapi menurut legenda ia pergi ke Ethiopia dan bertemu dengan Kandake (lihat Kisah Para .Rasul 8:27). Beberapa tulisan mengatakan bahwa ia direbahkan di tanah dan dipancung kepalanya dengan halberd (atau halbert, senjata abad ke 15 atau ke-16 yang memiliki mata pisau seperti kapak dan ujung logam yang runcing pada ujung batangnya yang panjang) di kota Nadabah (atau Naddayar), Ethiopia, sekitar tahun 60 M.

5. Yakobus (Kecil)

Yakobus ini adalah saudara Yesus dan penulis surat Yakobus. Ia tampaknya menjadi pemimpin gereja di Yerusalem (lihat Kisah Para Rasul12:27; 15:13-29; 21:18-24). Waktu dan cara kematiannya, yang tepat, tidak diketahui dengan pasti meskipun dipercaya itu terjadi pada tahun 66 M. Menurut Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi, imam besar Ananus memerintahkan agar Yakobus dihukum mati dengan dirajam batu. Namun Hegesippus, penulis Kristen awal, mengutip ahli sejarah abad ke-3 Eusebius, berkata bahwa Yakobus dilemparkan dari menara Bait Allah. Versi tentang kematiannya lebih lanjut menyatakan bahwa ia tidak mati setelah dijatuhkan, jadi kepalanya dipukul dengan pentung yang lebih padat, yang mungkin adalah pentung yang digunakan untuk memukul pakaian, atau pukul besi yang digunakan oleh tukang besi.

6. Matias

Dipilih untuk menggantikan tempat Yudas Iskariot yang kosong, hampir tidak ada sesuatu yang diketahui tentangnya. Dikatakan bahwa ia dirajam batu di Yerusalem dan kemudian dipancung.

7. Andreas

Andreas adalah saudara Petrus (Matius 4,:18 ). Tradisi mengatakan bahwa ia memberitakan Injil kepada banyak bangsa Asia dan menjadi martir di Edessa dengan disalibkan pada kayu salib berbentuk X, yang kemudian dikenal sebagai Salib Santo Andreas.

Kisah Martir

8. Markus

Hanya sedikit hal yang diketahui tentang Markus kecuali hal yang tertulis dalam Perjanjian Baru tentangnya. Setelah Paulus menyebutnya dalam 2 Timotius 4:11, ia menghilang dari pandangan. Tradisi mengatakan bahwa ia diseret sampai tubuhnya terkoyak-koyak oleh orang Alexandria ketika ia berbicara menentang perayaan yang khidmat untuk berhala Serapis mereka.

9. Petrus

Satu-satunya kisah yang kita miliki tentang kemartiran Rasul Petrus berasal dari penulis Kristen awal, Hegesippus. Kisahnya mencakup penampakan Kristus yang ajaib. Ketika Petrus sudah tua (Yohanes 21:18 ), Nero merencanakan untuk menghukum mati Petrus. Ketika murid-rnurid mendengarnya, mereka memohon kepada Petrus untuk melarikan did dad kota itu [yang diyakini Roma] dan ia melakukannya. Namun, ketika ia sampai di pintu gerbang kota, ia melihat Kristus yang berjalan ke arahnya. Petrus menjatuhkan diri bertelut dan berkata, “Tuhan, Engkau mau pergi ke mana?” Kristus menjawab, “Saya datang untuk disalibkan lagi.” Melaluinya, Petrus tahu ini waktu untuk menderita dan mati bagi Yesus dan memuliakan Allah (Yohanes 21:19). Jadi, ia kembali ke kota. Setelah ditangkap dan dibawa ke tempat kemartiran. Menurut St. Jerome, ia meminta agar disalibkan dengan posisi terbalik karena ia memandang dirinya tidak layak untuk disalibkan dalam posisi yang sama dengan Tuhannya.

Kisah Martir

10. Paulus

Rasul Paulus dipenjarakan di Roma pada tahun 61 M dan di sana ia menulis surat-surat dari penjara: surat Efesus, surat Filipi, dan surat Kolose. Pemenjaraannya berakhir sekitar tiga tahun kemudian pada saat Roma dibakar, yang terjadi pada bulan Mei tahun 64 M (lihat Kisah Para Rasul 28:30). Sela¬rna kebebasannya yang singkat, Paulus mungkin telah mengunjungi Eropa barat dan timur serta Asia Kecil- ia juga menulis su¬rat kiriman pertama kepada Timotius dan surat kiriman kepada Titus.

Semula Nero disalahkan karena ia membakar kota Roma.Jadi, untuk mengalihkan tuduhan itu darinya ia menyalahkan orang-orang Kristen. Akibatnya, penganiayaan yang kejam mulai berkobar terhadap mereka. Pada masa itu, Paulus ditangkap dan dimasukkan kembali ke dalam penjara Roma. Sementara berada di penjara untuk kedua kali, ia menulis surat kedua kepada Timotius. Itu adalah surat terakhirnya.

Tidak lama sesudahnya, ia diputuskan bersalah karena melakukan kejahatan melawan Kaisar dan dihukum mati. Ia dibawa ke tiang eksekusi dan dipancung. Hal itu terjadi pada tahun 66 M, tepat empat tahun sebelum Yerusalem jatuh.

11. Yudas

Ia adalah saudara Yakobus. Ia disalibkan di Edessa, kota kuno Mesopotamia, sekitar tahun 72 M.

12. Bartolomeus

Tradisi mengatakan bahwa ia berkhotbah di beberapa negara, kemudian menerjemahkan Injil Matius ke dalam bahasa India Timur dan mengajarkannya di negara itu. Musuh-musuhnya bangsa kafir dengan kejam memukuli dan menyalibkannya.

13. Tomas

Tomas memberitakan Injil ke Persia, Parthia, dan India. Di Calamina, India, ia disiksa oleh orang kafir yang marah, tubuhnya ditusuk tombak dan dilemparkan ke dalam nyala api oven.

14. Lukas

Lukas seorang non-Yahudi, mungkin orang Yunani. Tidak diketahui kapan atau bagaimana ia bertobat. Ia seorang tabib di Troas dan mungkin bertobat di sana melalui penginjilan Paulus, karena sejak di Troas ia menggabungkan diri dengan kelompok Paulus dan mulai menempuh perjalanan bersama mereka. Perhatikan dalam Kisah Para Rasul 16:8-10, di Troas itulah Lukas mengubah ungkapan “mereka” menjadi “kita” dalam teks – “Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami! Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia karen a dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”

Lukas pergi bersama Paulus ke Filipi, tetapi tidak dipenjarakan bersamanya dan tidak menempuh perjalanan bersama Paulus setelah ia dilepaskan. Ia tampaknya menjadikan Filipi sebagai rumahnya dan tinggal di sana beberapa lama. Setelah Paulus berkunjung kembali ke Filipi (Kisah Para Rasul 20:5-6) sekitar tujuh tahun kemudian, kita sekali lagi berjumpa Lukas. Sejak saat itu ia sekali lagi menempuh perjalanan bersama Paulus dan tinggal bersamanya selama perjalanannya ke Yerusalem (Kisah Para Rasul 20:6-21:18 ).

Namun, ia menghilang sekali lagi selama pemenjaraan Paulus di Yerusalem dan Kaisarea, serta hanya muncul kembali ketika Paulus mau menuju Roma (Kisah Para Rasul 27:1). Ia kemudian tinggal bersama Paulus selama pemenjaraannya yang pertama (Filemon 1:24; Kolose 4:14). Banyak ahli Alkitab percaya bahwa Lukas menulis Injilnya dan Kisah Para Rasul saat tinggal di Roma bersama Paulus pada masa itu. Se1ama pemenjaraan Paulus yang kedua, Lukas tampaknya tinggal di dekat atau bersama Paulus karena tepat sebelum kemartirannya, Paulus menulis surat kepada Timotius dan berkata, “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2 Timotius 4:11).

Sete1ah kematian Paulus, Lukas tampaknya meneruskan pemberitaan Injil seperti yang telah ia pe1ajari bersama Paulus. Kapan dan bagaimana persisnya ia mati tidak diketahui. Satu di antara sumber kuno menyatakan, “Ia melayani Tuhan tanpa gangguan karena ia tidak memiliki istri ataupun anak; dan pada saat ia berusia 84 ia jatuh tertidur di Boeatia (ternpat yang tidak dikenal), penuh dengan Roh Kudus.” Sumber awal lainnya mengatakan bahwa ia pergi ke Yunani untuk memberitakan Injil dan di sana ia menjadi martir dengan digantung pada pohon zaitun di Atena pada tahun 93 M.

15. Simon orang Zelot

Simon Orang Zelot, menginjil di daerah Mauritania, Africa, dan juga di Britania, dimana akhirnya dia disalib pada tahun 74 M.

16 Barnabas

Rasul Barnabas, kematiannya diperkirakan tahun 73 melalui proses penganiayaan.

17. Yohanes

Rasul Yohanes, saudara Yakobus, dipercaya mendirikan tujuh jemaat di Kitab Wahyu:
Smirna, Pergamus, Sardis, Filade1phia, Laodikia, Tiatira, dan Efesus. Dikatakan ia ditangkap di Efesus dan dibawa ke Roma tempat ia dilemparkan ke dalam tempat penggorengan yang diisi minyak yang mendidih, tetapi tidak melukainya. Akibatnya ia dilepaskan dan dibuang oleh Kaisar Domitian ke Pulau Patmos, tempat ia menulis Kitab Wahyu. Setelah dilepaskan dari Patmos ia kembali ke Efesus, temp at ia meninggal sekitar tahun 98 M. Ia satu-satunya rasul yang tidak mengalami kematian yang mengerikan.

Meskipun ada penganiayaan terus-menerus dan kematian yang mengerikan, Tuhan setiap hari menambahkan jiwa-jiwa ke dalam gereja. Gereja sekarang berakar kuat dalam doktrin rasul-rasul serta diairi dengan limpah dengan darah orang-orang kudus. Gereja dipersiapkan untuk menghadapi penganiayaan yang kejam yang akan datang.

Sumber:
John Foxe, Foxe’s Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi, 2001.
http://www.hrionline.ac.uk/johnfoxe/intro.html
Online Version : http://www.ccel.org/f/foxe/martyrs/home.html
Atau di http://www.the-tribulation-network.com/ … rs_toc.htm

II. AWAL PENGANIAYAAN TERHADAP GEREJA (54-304 M)

Penganiayaan Pertama, di Bawah Kaisar Nero (54-68 M)

Nero adalah kaisar keenam Roma. Ia memerintah selama 15 tahun. Ia adalah sebuah paradoks – seorang yang sangat kreatif digabung dengan sifat yang jahat serta kekejaman yang luar biasa. Orang ban yak mengatakan bahwa Nero memerintahkan agar Roma
dibakar kemudian menyalahkannya pada orang-orang Kristen untuk mengalihkan kemarahan penduduk Roma dari dirinya sendiri. Orang lain mengatakan bahwa ia tidak berada di Roma ketika kota itu terbakar. Yang mana yang benar,faktanya orang-orang Kristen disalahkan atas kebakaran yang terjadi selama sembilan bari dan selama itu perburuan atas orang-orang Kristen mulai meningkat serta menjadi penganiayaan yang mengerikan yang berlangsung selama sisa pemerintahan Nero.

Tindakan barbar terhadap orang Kristen menjadi lebih buruk daripada yang telah mereka alami sebelumnya, terutama tindakan yang dilakukan Nero. Hanya imajinasi yang diilhami Iblis saja yang bisa merancang tindakan semacam itu. Beberapa orang Kristen dijahit dalam kulit binatang buas dan dirobek-robek oleh anjing ganas. Baju yang dibalut lilin dikenakan pada orang Kristen lain, dan mereka kemudian diikat di tiang-tiang di kebun Nero lalu dinyalakan untuk dijadikan obor penerang dalam pesta yang ia adakan.
Penganiayaan yang kejam ini menyebar di seluruh Kekaisaran Roma, tetapi justru lebih berhasil memperkuat semangat kekristenan daripada memadamkannya. Bersama dengan Paulus dan Petrus, beberapa dari 70 utusan yang diangkat Yesus (Lukas 10:1) menjadi martir juga. Di antara mereka adalah Erastus, bendahara di Korintus (Roma 16:23); Aristarkhus dari Makedonia (Kisah Para Rasul 19:29); Trofimus dari Efesus (Kisah Para RasuI21:29); Barsabas, yang disebut juga Yustus (Kisah Para Rasul 1 :23); dan Ananias, Uskup Damaskus, yang diutus Tuhan kepada Saulus (Kisah Para RasuI9:10).

Kisah Martir

Penganiayaan Kedua, di Bawah Pemerintahan Domitian (81-96 M)

Domitian adalah orang yang kejam, yang membunuh saudaranya sendiri dan melakukan penganiayaan kedua terhadap orang-orang Kristen. Dalam kebenciannya, Domitian mengeluarkan perintah “Bahwa tidak ada orang Kristen, yang pernah dibawa ke depan pengadilan, yang boleh dibebaskan dari hukuman tanpa menyangkal agamanya.”

Berbagai kebohongan dibuat selama masa ini untuk mencelakakan orang Kristen, beberapa darinya begitu kasar sehingga hanya kebencian tanpa pemikiran yang bisa mempercayainya – contohnya orang-orang dianggap bertanggungjawab atas setiap bencana kelaparan, wabah penyakit, atau gempa bumi yang terjadi di satu di antara bagian kekaisaran Romawi. Uang ditawarkan kepada orang-orang yang mau bersaksi melawan orang-orang Kristen serta banyak orang yang tak bersalah dibantai demi keuntungan finansial. Ketika orang-orang Kristen dibawa ke depan sidang Domitian, mereka diberi tahu bahwa jika mereka mengucapkan sumpah setia kepadanya, mereka akan dibebaskan. Orang-orang yang menolak untuk mengucapkan sumpah akan dibunuh.

Martir selama zaman ini yang sangat kita kenal adalah Timotius, yang merupakan murid Rasul Paulus terkenal serta penilik gereja di Efesus sampai tahun 97 M. Pada tahun itu, orang-orang kafir di Efesus sedang merayakan upacara yang disebut “Catagogion.” Ketika Timotius melihat upacara kafir itu, ia menghalangi jalan mereka serta dengan tegas menegur mereka atas penyembahan berhala yang mereka lakukan. Keberaniannya yang kudus membuat marah orang-orang kafir itu, akibatnya mereka menyerangnya dengan pentung dan memukulinya dengan kejam sehingga ia mati karena luka-lukanya dua hari kemudian.

Penganiayaan Ketiga, di Bawah Kaisar Trajan (98-117 M)

Dalam penganiayaan yang ketiga, Pliny, yang dikenal sebagai “si kecil,” seorang konsul dan penulis Romawi, merasa kasihan terhadap orang-orang Kristen yang dianiaya lalu menulis surat kepada Trajan, agar meyakinkannya bahwa ada ribuan orang Kristen yang telah dibantai setiap hari yang tidak melakukan apa pun yang bertentangan dengan hukum Romawi. Dalam surat itu, ia berkata:

Seluruh catatan yang mereka berikan ten tang kejahatan atau kesalahan mereka (yang mana pun sebutan yang dipilih) bisa diringkas menjadi satu: yaitu, bahwa mereka biasa berkumpul pada hari tertentu sebelum matahari terbit dan bersama-sama mengulang satu di antara bentuk doa tertentu kepada Kristus sebagai Allah serta untuk mengikatkan diri mereka sendiri pada satu kewajiban, bukan untuk melakukan kejahatan; sebaliknya, agar tidak pernah melakukan pencurian, perampokan, atau perzinaan, tidak pernah berdusta dalam kata-kara mereka, tidak pernah menipu orang lain: setelah itu ada kebia¬saan mereka untuk berpisah dan berkumpul kembali untuk ambil bagian dalam komuni makan makanan yang tidak berbahaya.

Seberapa besar dampak surat Pliny untuk mengurangi penganiayaan itu,jika ada, tidak dicatat.

Selama penganiayaan ini, pada tahun 110 M, Ignatius (lihat gambar 8), yang adalah penilik gereja di Antiokhia, ibukota Syria, tempat murid-murid pertama disebut orang Kristen (Kisah Para Rasul ll:26) dikirim ke Roma karena ia mengaku memereayai dan mengajarkan Kristus. Dikatakan bahwa ketika ia berjalan melewati Asia, sekalipun dijaga oleh para prajurit, ia menyampaikan firman Allah di setiap kota yang mereka lalui, dan mendorong serta meneguhkan gereja-gereja. Ketika berada di Smirna, ia menulis kepada gereja di Roma dan mengimbau kepada mereka untuk tidak berusaha melepaskannya dari kemartiran karena mereka akan menghilangkan hal yang sangat ia rindukan dan harapkan. Ia menulis:

Sekarang saya mulai menjadi murid. Saya tidak memedulikan hal-hal yang kelihatan atau tak kelihatan supaya saya bisa memenangkan Kristus. Biarlah api dan salib, biarlah kumpulan binatang buas, biarlah retaknya tulang, dan tercabiknya kaki tangan, biarlah kertakan seluruh tubuh, dan semua kebencian si Jahat, turun ke atas saya; hanya jika itu terjadi, saya bisa memenangkan Kristus Yesus.

Bahkan ketika ia dijatuhi hukuman dengan dijadikan mangsa singa, bahkan bisa mendengar auman mereka, ia begitu dipenuhi dengan keinginan untuk menderita bagi Kristus (lihat Kisah Para Rasul 5:41) sehingga ia berkata, ”Aku adalah gandum Kristus: aku akan diremukkan oleh gigi-gigi binatang-binatang buas supaya aku didapati sebagai roti yang murni.”

Kaisar Adrian

Trajan digantikan oleh Adrian, yang mel an¬jutkan penganiayaan ketiga dengan kekejaman yang lebih besar daripada pendahulunya. Sekitar 10 ribu orang Kristen menjadi martir selama pemerintahannya. Banyak di an¬tara mereka yang dimahkotai duri, disalibkan, dan lambungnya ditusuk tombak dalam pe¬niruan kematian Kristus yang kejam.

Eustachius, komandan Romawi yang sukses dan pernberani, diperintahkan untuk bergabung dengan upacara penyembahan berhala untuk merayakan kemenangannya, tetapi imannya yang dalam kepada Kristus jauh lebih besar daripada kesia-siaan tindakan itu sehingga ia menolak. Karena marah, Adrian melupakan pengabdian Eustachius yang mulia kepada Romawi dan memerintahkannya serta seluruh ke1uarganya dibunuh sebagai martir.

Dua bersaudara, Fausines dan Jovita, menanggung siksaan dengan kesabaran yang luar biasa sehingga seorang kafir bernama Calocerius begitu terpukau dan kagum sehingga ia berseru dengan kegembiraan yang luar bias a, “Agunglah Allah orang-orang Kristen!” Oleh karena tindakannya itu, ia segera ditangkap dan disiksa dengan siksa¬an yang sarna.

Penganiayaan yang tanpa belas kasihan terhadap orang-orang Kristen terus berlanjut sampai Quadratus, yang adalah penilik Atena, me1akukan pembelaan ilmiah demi tnereka di depan Kaisar, yang berada di Atena untuk me1akukan kunjungan. Pada saat yang sarna, Aristides, seorang filosof di kota itu, menulis surat kiriman yang e1egan kepada Kaisar, juga demi membe1a orangorang Kristen. Hal itu secara bersama-sama membuat Adrian menjadi lebih lunak dan mengendurkan penganiayaannya.

Adrian meninggal pada 138 M, dan digantikan oleh Antoninus Pius. Kaisar Pius adalah seorang di antara penguasa yang paling ramah yang pernah memerintah dan menghentikan semua penganiayaan terhadap orang-orang Kristen.

Penganiayaan Keempat, di Bawah Kaisar Marcus Aurelius Antoninus (162-180 M)

Marcus Aurelius seorang filosof dan menulis Meditations, karya klasik stoikisme, yang bersikap acuh tak acuh terhadap kesenangan atau penderitaan. Ia juga kejam dan tidak berbelas kasihan terhadap orang-orang Kristen, dan bertanggung jawab atas penganiayaan keempat kepada mereka

Kekejaman terhadap orang-orang Kristen dalam penganiayaan ini begitu tidak manusiawi sehingga banyak orang yang menyaksikannya merasa muak dengan kekejaman itu dan merasa takjub me1ihat keberanian orang yang mengalami siksaan itu. Beberapa martir, kakinya dihancurkan dengan alat penjepit dan kemudian dipaksa berjalan di atas duri, paku, kerang yang tajam, dan benda-benda tajam lainnya. Orang lainnya dicambuk sampai otot dan pembuluh darah mereka pecah. Kemudian sete1ah mengalami penderitaan melalui siksaan yang paling mengerikan yang bisa dipikirkan, mereka dibunuh dengan cara yang mengerikan. Namun, hanya sedikit yang berpaling dari Kristus atau memohon kepada para penyik sa mereka untuk meringankan penderitaan mereka.

Ketika Germanicus, seorang Kristen sejati yang masih muda diserahkan kepada singa yang buas karen a kesaksian imannya, ia bersikap begitu penuh keberanian sehingga beberapa orang kafir bertobat pada iman yang memuneulkan keberanian semacam itu.

Polikarpus, seorang murid Rasul Yohanes dan penilik gereja di Smirna. Ia mendengar bahwa para prajurit menearinya lalu berusaha me1arikan diri, tetapi ia ditemukan oleh seorang anak. Sete1ah memberi makan para penjaga yang menangkapnya, ia meminta waktu satu jam untuk berdoa dan permintaannya dikabulkan mereka. Ia berdoa dengan begitu tekun sehingga para penjaga itu meminta maafkepadanya karena mereka ditugaskan untuk menangkapnya. Namun, ia akhirnya dibawa ke depan gubernur dan dihukum bakar di tengah pasar.

Setelah putusan hukumannya ditentukan, gubernur berkata kepadanya, “Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu.”

Polikarpus menjawab, “De1apan puluh enam tahun aku te1ah me1ayani Dia; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menye1amatkan aku?”

Di tengah pasar, ia diikat di tonggak dan tidak dipaku seperti kebiasaan pada saat itu karena ia menjamin mereka bahwa ia akan berdiri tanpa bergerak dalam nyala api dan tidak akan me1awan mereka. Pada saat kayu-kayu kering yang diletakkan di sekitarnya dinyalakan, nyala api itu berkobar dan me nyelubungi tubuhnya tanpa membakarnya. Maka pelaksana hukuman diperintahkan untuk menusuknya dengan pedang. Ketika ia me1akukannya, darah yang sangat banyak menyembur ke1uar dan memadamkan api itu. Meskipun ternan-ternan Kristennya memohon agar tubuhnya diberikan kepada mereka supaya mereka dapat menguburkannya, musuh-musuh Injil bersikeras agar tubuhnya dibakar dengan api, dan itu dilaksanakan.

Felicitatis, seorang wanita kaya dari ke1uarga Romawi yang terkenal, seorang Kristen yang saleh dan setia. Ia memiliki tujuh anak yang juga adalah orang Kristen yang setia. Mereka semua menjadi martir.

Januarius, anaknya yang tertua, dicambuk, dan ditekan dengan beban yang berat sampai mati. Felix dan Philip, dua anak berikutnya, otaknya terlempar ke1uar ketika dipukul dengan pentung. Silvanus, anak keempat, dilemparkan dari tebing yang euram. Ketiga anak yang paling muda, Alexander, Vitalis, dan Martial, dipancung dengan pedang. Felieitatis kemudian dipancung dengan pedang yang sama.

Justinus, teolog Yunani yang mendirikan sekolah filsafat Kristen di Roma dan menulis Apology dan theDialogue,juga menjadi martir se1ama masa penganiayaan ini. Ia adalah penduduk asli Neapolis, di Samaria, dan adalah peeinta kebenaran serta ilmuwan universal. Sete1ah pertobatannya pada kekristenan ketika berusia 30 tahun, ia menulis surat kiriman yang indah kepada orang-orang kafir dan menggunakan talentanya untuk meyakinkan orang-orang Yahudi terhadap kebenaran iman Kristen.

Ketika orang-orang kafir mulai memperlakukan orang-orang Kristen dengan sangat kejam, Justinus menulis pembelaan untuk membela mereka sehingga men¬dorong Kaisar untuk mengeluarkan keputusan untuk membela orang-orang Kristen.

Segera setelah itu, ia sering melakukan perdebatan dengan Crescens, seorang filosof sinis yang terkenal Argumen Justinus mengungguli Crescens dan itu mengganggunya sehingga ia berusaha menghancurkan Justinus. Pembelaan kedua yang ditulis Justinus untuk orang-orang Kristen memberikan kesempatan yang dibutuhkan Crescens dan ia meyakinkan Kaisar bahwa Justinus berbahaya baginya. Akibatnya ia dan keenam pengikutnya ditangkap lalu diperintahkan untuk memberikan persembahan kepada berhala kafir. Ketika mereka menolak, mereka dicambuk kemudian dipancung.

Segera setelah itu, penganiayaan mereda untuk sementara karena terjadinya pelepasan yang ajaib atas pasukan Kaisar dari kekalahan tertentu di peperangan di wilayah utara melalui doa-doa pasukan tentaranya yang semuanya adalah Kristen. Namun, penganiayaan dimulai lagi di Prancis dan siksaannya jauh melebihi kemampuan penggambaran melalui kata-kata.

Sanctus, diaken dari Vienna, bagian tubuhnya yang paling lunak ditempeli plat tembaga panas menyala dan dibiarkan di sana sampai seluruh tulangnya terbakar.

Blandina seorang wanita Kristen yang postur tubuhnya lemah sehingga ia dipandang tidak akan mampu menjalani siksaan, tetapi ketabahannya sangat luar biasa sehingga penyiksanya menjadi kecapaian dengan pekerjaan mereka yang jahat. Ia kemudian dibawa ke amphitheater dengan tiga orang lainnya lalu digantung pada sepotong kayu yang ditancapkan di tanah dan dibiarkan menjadi makanan singa yang buas. Sementara mengalami penderitaannya, ia berdoa dengan tekun untuk teman-temannya dan menguatkan mereka. Namun, tidak satu pun dari singa-singa itu yang menyentuhnya,jadi ia dimasukkan ke dalam penjara lagi – itu terjadi dua kali. Kali terakhir ia dibawa keluar, ia ditemani oleh seorang remaja berusia 15 tahun Ponticus. Ketabahan iman mereka membuat marah orang banyak itu sehingga sekalipun ia wanita dan temannya masih muda, tidak dipandang sama sekali; dan mereka diserahkan pada hukuman dan siksaan yang paling kejam. Blandina dicabik-cabik oleh singa itu, dicambuk dan dimasukkan dalam jaring lalu diseruduk ke sana kemari oleh seekor banteng liar kemudian diletakkan di kursi logam yang merah menyala dalam keadaan telanjang. Ketika ia bisa berbicara, ia menasihati semua orang yang berada di dekatnya untuk berpaut kuat-kuat pada iman mereka. Ponticus bertahan sampai mati. Ketika penyiksa Blandina tidak mampu membuatnya mencabut imannya, mereka membunuhnya dengan pedang.

Penganiayaan Kelima, Dimulai Kaisar Lucius Septimus Severus (193-211 M)

Untuk masa yang singkat, Severus bersikap baik kepada orang-orang Kristen karena dikatakan bahwa ia te1ah disembuhkan dari sakit yang parah sete1ah dilayani oleh seorang Kristen, tetapi tidak lama kemudian prasangka dan kemarahan penduduk Romawi memuncak sehingga hukum kuno dihidupkan kembali dan digunakan untuk melawan orang-orang Kristen. Dan sekali lagi, mereka disalahkan serta dihukum atas setiap bencana alam yang terjadi.

Sekalipun penganiayaan berlangsung lagi, gereja dan Injil tetap berdiri teguh, pun menyala terang me1aluinya; dan Tuhan terus menambahkan jumlah anggota tubuh-Nya di seluruh kekaisaran Romawi. Tertullian, teo log dari Kartago yang bertobat menjadi Kristen pada tahun 193 M, berkata bahwa jika semua orang Kristen meninggalkan provinsi Romawi, kekaisaran itu hampir-hampir kosong.

Selama penganiayaan, Victor, Uskup Roma, menjadi martir pada tahun 201 M Leonidus, ayah Origen, filosof Kristen Yunani yang terkenal atas penafsirannya terhadap Perjanjian Lama, dipancung. Banyak pendengar Origen juga menjadi martir:

Plutarchus, Serenus, Heron, dan Herac1ides dipancung. Seorang wanita bernama Rhais dituangi aspal yang mendidih di atas kepalanya dan kemudian dibakar, seperti juga ibunya, Marcella. Saudaranya, Potainiena, mengalami nasib yang sama se perti yang dialaminya, tetapi se1ama penyiksaannya, Basilides, kepala pasukan yang diperintahkan untuk menyaksikan eksekusinya, bertobat pada Kristus. Tidak lama sesudahnya, ketika ia diminta untuk bersumpah pada berhala Romawi, ia menolak karena ia sudah menjadi Kristen. Pertama-tama orangorang yang bersamanya tidak percaya hal yang mereka dengar, tetapi ketika ia mengulangnya, ia diseret di depan hakim, dikutuk dan dipancung.

Irenaeus (130-202 M), bapa Gereja Yunani dan Uskup Lyons, dilahirkan di Yunani dan menerima pendidikan sekuler maupun Kristen. Dipercaya bahwa ia menulis kisah penganiayaan di Lyons. Ia dipancung pada202 M.

Sekarang penganiayaan berkembang ke Afrika Utara, yang merupakan satu di antara provinsi Romawi. Banyakorang menjadi martir di wilayah itu. Berikut beberapa orang di antaranya.

Perpetua, seorang wanita yang te1ah menikah yang masih menyusui bayinya; Felicitas, yang pada saat itu sedang hamil, dan Revocatus dari Kartago, seorang budak yang sedang diajar prinsip-prinsip kekristenan. Tahanan lainnya yang menderita pada saat yang sama adalah Saturninus, Secundulus, dan Satur. Ketiga orang terakhir ini disuruh berlari di antara dua baris laki-laki yang dengan kejam mencambuk mereka ketika mereka lewat.

Setelah muncul di depan prokonsul Minutius dan ia ditawari kebebasan jika ia mau mempersembahkan kurban kepada berhala, bayi Perpetua yang masih menyusu dirampas darinya dan ia dilemparkan ke dalam penjara. Saat menje1askan iman dan kehidupannya kepada ayahnya di penjara, ia memberi tahu ayahnya, “Lubang penjara ini bagi saya adalah istana.” Be1akangan ia dan tahanan 1ainnya muncul di depan hakim Hilarianus. Ia juga menawarkan untuk membebaskannya jika ia mau mempersembahkan kurban. Ayahnya berada di sana dengan bayinya dan memohon kepadanya untuk me¬lakukan pengurbanan. la menjawab, “Saya tidak akan memberikan kurban.”

“Apakah kamu seorang Kristen?” tanya Hilarianus.

“Saya seorang Kristen,”Perpetua menjawab.

Semua orang Kristen yang bersamanya berdiri teguh bagi Kristus dan mereka diperintahkan untuk dibunuh binatang buas untuk memberi hiburan bagi orang banyak pada hari libur kafir berikutnya. Laki-laki dicabik-cabik oleh singa-singa dan macan tutul serta orang perempuan diserang oleh sapi jantan.

Pada hari pelaksanaan hukuman, Perpetua dan Felicitas pertama-tama ditelanjangi lalu digantung di jala-jala, tetapi kemudian dilepaskan dan diberi pakaian lagi karena orang banyakkeberatan. Ketika kembali ke arena, Perpetua diseruduk ke sana kemari oleh sapi gila dan hampir jatuh pingsan, tetapi tidak terluka parah; namun Felicitas terluka parah terkena tanduk-tanduk sapi itu. Perpetua bergegas lari ke sisinya dan memegangnya sementara mereka menunggu sapi jantan itu menyerang mereka lagi, tetapi sapi itu menolak untuk me lakukannya dan mereka diseret keluar dari arena. Hal ini membuat orang banyak kecewa.

Setelah sesaat, mereka dimasukkan ke arena lagi dan dibunuh oleh gladiator. Felicitas terbunuh dengan cepat, tetapi gladiator muda dan belum berpengalaman yang ditugasi untuk membunuh Perpetua gemetar dengan hebat dan hanya bisa menikamnya dengan lemah beberapa kali. Melihat bagaimana ia gemetar, Perpetua memegang mata pedangnya lalu mengarahkan itu pada bagian vital tubuhnya.

Nasib orang laki-1aki juga sarna. Satur dan Revocatus dibunuh oleh binatang-binatang buas. Saturninus dipancung dan Secundu1us mati karena luka-lukanya di penjara.

Penganiayaan Keenam, di Bawah Kaisar Marcus Clodius Pupienus Maximus (164-238 M)

Maximus seorang raja lalim yang memerintahkan semua orang Kristen diburu dan dibunuh. Begitu banyaknya orang yang dibunuh sehingga kadang-kadang mereka mengubur mayat orang-orang itu 50 atau 60 orang sekaligus dalam satu lubang besar.

Di antara mereka yang dibunuh adalah Pontianus, Uskup Roma, yang diasingkan ke Sardinia karena berkhotbah menentang penyembahan berhala dan dibunuh di sana. Penerusnya, Anteros, juga menjadi martir setelah menduduki jabatannya selama 40 hari saja karena mengusik pemerintah dengan mengumpulkan sejarah para martir. Senator Roma, Pammachius dan keluarganya serta 42 orang Kristen lainnya dipancung pada hari yang sama lalu kepala mereka dipertontonkan di pintu gerbang kota. Imam Kristen, Calepodius, diseret sepanjang jalan-jalan Roma kemudian dilemparkan ke dalam Sungai Tiber dengan digantungi batu yang diikatkan pada lehernya. Seorang perawan muda yang cantik juga berbudi halus bernama Martina dipancung dan Hippolitus, imam Kristen diikatkan pada kuda liar lalu diseret sepanjang jalan sampai ia mati.

Maximus meninggal pada 238 M dan digantikan oleh Gordian, yang kemudian digantikan oleh Philip. Se1ama kedua orang itu memerintah, gereja terbebas dari penganiayaan se1ama se1ang mas a 6-10 tahun. Namun, pada tahun 249 M penganiayaan yang hebat di Alexandria dikobarkan lagi oleh imam kafir tanpa sepengetahuan Kaisar. Se1ama penganiayaan itu, penatua Kristen, Metrus, dipukuli dengan pentung, ditusuk dengan jarum, dan dirajam dengan batu sampai mati karena menolak untuk menyembah berhala. Seorang perempuan Kristen, Quinta, dicambuki, kemudian diseret di atas batu-batu api dalam keadaan berdiri lalu dirajam dengan batu sampai mati. Seorang perempuan berusia 70 tahun, Appolonia, yang mengaku bahwa ia adalah orang Kristen, diikat pada tiang dan dibakar. Setelah api disiapkan, ia memohon untuk dibebaskan. Orang banyak menyangka bahwa ia akan menyangkal Kristus. Namun, mereka terkejut ketika ia me1emparkan dirinya sendiri ke dalam nyala api dan mati.

Penganiayaan Ketujuh, di Bawah Kaisar Decius (249-251 M)

Penganiayaan ini dimulai oleh Decius karena kebenciannya kepada pendahulunya Philip, yang dipercaya adalah seorang Kristen, dan oleh kemarahannya karena kekristenan berkembang dengan sangat cepat dan dewa-dewa kafir mulai ditinggalkan. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menyingkirkan agama Kristen beserta semua pengikutnya. Penduduk Roma yang kafir sangat antusias untuk mendukung keputusan Decius dan memandang bahwa pembunuhan orang-orang Kristen akan bermanfaat bagi kekaisaran. Se1ama penganiayaan ini,jumlah para martir begitu banyak sehingga tidak bisa dicatat oleh seorang pun juga. Di bawah ini ada beberapa nama mereka.

St. Chrysostomus, bapa gereja Kenstantinope1 pada tahun 398, menulis bahwa Julian, seorang Sisilia, ditangkap karena menjadi orang Kristen, dimasukkan ke dalam tas kulit dengan beberapa ekor ular dan kalajengking kemudian dilemparkan ke dalam laut.

Seorang laki-laki muda, Peter, yang terkenal karena memiliki kualitas mental dan tubuh yang kuat, menolak untuk mempersembahkan kurban bagi Dewi Venus ketika ia disuruh melakukannya. Dalam pembelaannya, ia berkata, “Saya heran bahwa kamu mempersembahkan kurban kepada perempuan yang terkenal jahat, yang penyelewengannya dicatat dalam tulisan-tulisanmu sendiri dan yang kehidupannya dipenuhi dengan tindakan yang menyimpang, yang seharusnya dihukum oleh undang-undangmu. Tidak, saya akan mempersembahkan kurban puji-pujian dan doa yang berkenan kepada Allah.” Ketika gubernur Asia, Optimus, mendengar hal ini, ia rnemerintahkan agar Peter ditarik di atas roda sampai semua tulangnya patah kemudian dipancung.

Seorang Kristen yang lemah, Nichomachus, dibawa ke hadapan Optimus dan disuruh memberikan kurban kepada berhala kafir. Nichomachus menjawab, “Saya tidak bisa memberikan penghormatan yang seharusnya hanya saya berikan kepada Yang Mahatinggi, kepada roh-roh jahat.” Ia segera diletakkan di tempat penyiksaan dan setelah menderita siksaan sesaat, ia menyangkal imannya kepada Kristus. Segera setelah ia dilepaskan dari tempat penyiksaan, ia dikuasai kesakitan yang hebat, jatuh ke tanah, dan mati.

Ketika melihat hal yang tampaknya merupakan penghukuman yang mengerikan, Denisa, seorang gadis berusia 16 tahun yang berada di antara para penonton berseru, “Oh, orang berdoa yang malang, mengapa kamu membeli kelegaan yang hanya sesaat dengan membayar kekekalan yang menyedihkan!” Ketika Optimus mendengar ini, ia memanggilnya datang kepadanya. Dan ketika Denisa mengaku bahwa ia seorang Kristen, Optimus memerintahkan ia dipancung.

Andrew dan Paul, dua orang Kristen yang menjadi ternan Nichomachus, berpegang erat pada Kristus dan dirajam dengan batu sampai mati ketika mereka berseru kepada Penebus mereka yang diberkati.

Di Alexandria, Alexander dan Epimachus ditangkap karena mereka adalah orang Kristen. Ketika mereka mengaku bahwa mereka benar orang Kristen, mereka dipukuli dengan tongkat yang tebal, dicabik dengan pengait kemudian dibakar sampai mati. Pad a hari yang sama, empat martir perempuan dipancung kepalanya; nama mereka tidak dikenal.

Di Nice, Trypho, dan Respisius, laki-laki yang terkenal, orang Kristen, ditangkap, dan disiksa. Kaki mereka dipaku, mereka dicambuki dan diseret sepanjangjalan, dicabik dengan pengait dari besi, dibakar dengan obor kemudian dipancung.

Quintain, gubernur Sicily, bernafsu terhadap seorang perempuan dari Silisia, Agatha, yang terkenal karena kesalehannya maupun kecantikannya yang luar biasa. Ketika ia menolak semua rayuan Quintain, sang gubernur menyerahkan ia ke tangan perempuan yang jahat, Aphrodica, yang menjalankan temp at pelacuran. Namun, perempuan yang jahat ini tidak bisa menjadikan Agatha seorang pelacur supaya Quintain bisa memuaskan nafsunya dengannya. Ketika mendengar ini, nafsu Quintain berubah menjadi kemarahan dan ia memanggil Agatha ke hadapannya lalu menanyainya. Ketika ia mengaku bahwa ia adalah orang Kristen, Quintain memerintahkan agar ia dicambuki, dicabik dengan kaitan yang tajam lalu dibaringkan telanjang di at as kayu arang yang menyala yang dicampur dengan pecahan kaca. Agatha menanggung siksaan ini dengan keberanian yang luar bias a dan dikembalikan lagi ke penjara tempat ia meninggal karena luka -lukanya pada tanggal 5 Februari 251.

Lucius, gubernur Kreta, memerintahkan Cyril, penilik gereja di Gortyna yang berusia 84 tahun, agar ditangkap karena menolak untuk menaati keputusan Kaisar untuk melakukan pengurbanan kepada berhala. Ketika Cyril muncul ke hadapannya, Lucius menasihatinya untuk melakukan pengurbanan dan dengan begitu menyelamatkan dirinya sendiri dari kematian yang mengerikan. Orang yang saleh itu menjawab bahwa ia telah lama mengajar orang-orang lain jalan untuk mengalami hidup kekal dalam Kristus dan sekarang ia harus berdiri teguh demi jiwanya sendiri. Ia tidak menunjukkan rasa takut ketika Lucius memutuskan ia untuk dibakar di tiang dan menderita di tengah kuburan api dengan sukacita dan keberanian yang luar biasa.

Pada tahun 251 M, Kaisar Decius mendirikan kuil kafir di Efesus dan memerintahkan kepada semua orang di kota itu untuk memberikan kurban kepada berhala-berhala. Tujuh prajuritnya yang adalah orang Kristen menolak untuk me1akukannya dan dimasukkan ke dalam penjara. Mereka adalah: Konstantinus, Dionysius, Joannes, Malchus, Martianus, Maximianus, dan Seraion. Decius mencoba memalingkan mereka dari iman mereka dengan menunjukkan kemurahan hati lalu memberi kesempatan kepada mereka sampai ia kembali dari ekspedisi untuk mengubah pikiran mereka. Se1ama kepergiannya ketujuh orang itu melarikan diri dan menyembunyikan diri di gua di bukit-bukit yang dekat dari situ. Namun, ketika Decius pulang, tempat persembunyian mereka ditemukan dan ia memerintahkan agar gua itu dimeteraikan sehingga mereka mati karena kehausan dan kelaparan.

Pada masa penganiayaan di bawah Decius itulah Origen yang berusia 64 tahun, filosof Kristen yang terkenal, yang ayahnya, Leonidus, menjadi martir selama penganiayaan kelima, ditangkap, dan dilemparkan ke dalam penjara yang buruk di Alexandria. Kakinya diikat dengan rantai dan dimasukkan ke dalam pasungan lalu kakinya direntangkan sejauh mungkin. Ia terus-menerus diancam dengan hukuman bakar dan disiksa dengan segala alat yang membuatnya tetap hidup dalam keadaan sekarat un¬tuk beberapa saat sebe1um mati.

Untungnya, pada waktu itu Decius mati dan penerusnya Gallus segera terlibat perang untuk memukul mundur penyerbuan Goth, pasukan Jerman dari utara. Hal ini untuk sementara menghentikan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dan Origen mendapatkan kebebasannya lalu pergi ke Tirus, serta tinggal di sana sampai ia mati lima tahun sesudahnya pada tahun 254 M.

Penganiayaan Kedelapan, di Bawah Kaisar Valerian (253-260 M)

Penganiayaan ini dimulai pada bulan keempat pada tahun 257 M dan berlangsung se1ama tiga setengah tahun. Jumlah martir dan tingkat penyiksaannya sarna seperti penganiayaan sebelumnya. Kita tidak dapat menceritakan semua kisah mereka, jadi kita memilih beberapa orang untuk mewakili yang lainnya.

Rufina dan Secunda, anak-anak perempuan yang cantik dan berpendidikan tinggi dari seorang yang terkenal di Roma, bertunangan dengan dua orang laki-laki yang kaya, Armentarius dan Verinus. Keempat orang itu semuanya mengaku Kristen. N amun, ketika penganiayaan dimulai dan kedua laki-laki muda itu menyadari bahaya bahwa mereka akan kehilangan uang mereka, mereka menyangkal iman mereka, dan berusaha membujuk perempuan-perempuan muda itu untuk me1akukan hal yang sarna. Oleh karena mereka tidak mau, laki-laki itu memberikan informasi yang menentang mereka, dan mereka ditangkap karena menjadi orang Kristen dan dibawa ke depan gubernur Roma, Junius Donatus, dan dijatuhi hukuman dengan cara dipancung. Penilik gereja di Roma, Stephen, juga dipancung.

Pada waktu yang sama, di Toulouse, yang merupakan bagian dari Gaul Romawi, Saturninus, penilik gereja yang saleh, menolak untuk mempersembahkan kurban kepada berhala di kuil mereka ketika ia diperintahkan untuk me1akukannya. la dibawa ke puncak tangga kuil dan diikat kakinya pada ekor sapi jantan yang buas. Binatang itu kemudian didorong ke bawah dari tangga kuil itu dengan menyeret Saturninus di be1akangnya. Pada saat mereka sampai di tangga dasar, kepala orang yang saleh itu terbe1ah lalu ia mati.

Di Roma, Sixtus menggantikan Stephen sebagai penilik gereja, tetapi masa jabatannya hanya singkat. Pada tahun 258 M, setahun setelah Stephen menjadi martir, Marcianus, gubernur Roma, mendapatkan perintah dari Kaisar Valerian yang memberi wewenang kepadanya untuk membunuh semua imam di Roma. Sixtus lalu keenam diakennya segera dibunuh.

Di gereja di Roma juga ada seorang laki-laki saleh bernama Lawrence, yang adalah pe1ayan Injil, dan bertanggung jawab untuk membagikan barang-barang gereja (lihat Kisah Para Rasul 6:3). Marcianus dengan tamak menuntut agar Lawrence memberi tahu tempat kekayaan gereja disembunyikan. Ia berpikir bahwa ia bisa meramp as barang-barang itu untuk dirinya sendiri. Lawrence meminta waktu tiga hari untuk mengumpulkan kekayaan itu lalu menyerahkannya kepada gubernur.

Ketika hari ketiga tiba, Marcianus menuntut agar Lawrence menepati janjinya. Lawrence merentangkan tangannya pada beberapa orang Kristen yang miskin yang te1ah ia kumpulkan di tempat itu bersamanya lalu berkata, “lnilah kekayaan gereja yang paling berharga. Mereka adalah hart a benda tempat iman kepada Kristus memerintah, temp at Kristus memiliki tempat kediamanNya. Perhiasan apakah yang dimiliki gereja yang lebih berharga daripada orang-orang tempat Kristus berjanji untuk mendiaminya?”

Ketika mendengarnya, Marcianus sangat marah dan menjadi setengah gila karena pengaruh lblis. la berteriak dalam kemarahannya: “Nyalakan api, jangan sisakan kayunya! Penjahat ini telah berusaha menipu Kaisar. Singkirkan ia, singkirkan ia! Cambuk ia dengan cemeti, sentak ia dengan kaitan, pukul ia dengan kepalan tangan, pukul ia dengan pentung. Apakah pengkhianat bergurau dengan Kaisar? Jepit ia dengan tang yang kuat, tempe1kan batang logam yang menyala ke tubuhnya. Keluarkan rantai yang paling kuat, garpu api, dan tempat tidur berparut. Taruh temp at tidur itu dalam api; dan ketika sudah menyala merah, ikat tangan dan kaki pengkhianat itu, lalu panggang ia, bakar ia, ayunkan ia, bolak-balik ia. Siksa ia dengan cara apa pun yang bisa kamu pikirkan atau kamu sendiri akan disiksa.”

Sebe1um ia selesai berteriak-teriak, siksaan itu segera dimulai. Sete1ah mengalami banyak siksaan yang kejam, hamba Kristus yang rendah hati itu mulai dibaringkan di temp at tidur yang menyala. Namun, karena pemeliharaan Allah, tempat tidur itu teras a seperti bulu-bulu yang lembut dan Lawrence yang saleh terbaring di sana lalu mati seolah-olah sedang beristirahat dengan pulas.

Di Afrika, penganiayaan yang sangat hebat mulai berkobar. Ribuan orang menjadi martir bagi Kristus. Sekali lagi, kita hanya bisa mengisahkan beberapa cerita saja dari mereka.

Di Utica, tepat di barat daya Kartago, gubernur provinsi memerintahkan agar 300 orang Kristen ditempatkan di sekeliling pinggiran lubang pembakaran kapur yang sedang menyala. Sepanci batu arang dan dupa untuk menyembah berhala disiapkan lalu orang-orang Kristen diberi tahu bahwa mereka harus memilih: memberikan persembahan kepada dewa Jupiter atau dilemparkan ke dalam lubang. Semua menolak kemudian bersama-sama melompat ke dalam lubang yang membuat napas mereka tercekik, terbakar dalam asap, dan nyala api yang mengerikan.

Tidak jauh dari sana, tiga orang perawan Kristen, Maxima, Donatilla, dan Secunda, dijatuhi hukuman karena menolak untuk menyangkal Kristus. Mereka diberi empedu dan cuka untuk diminum, mungkin untuk meringankan penderitaan mereka, atau untuk meniru Yesus (lihat Matius 27:34). Mereka kemudian dicambuk dengan kejam dan luka-lukanya digosok dengan jeruk limau. Setelah itu mereka digantung dan disiksa di gantungan lalu dihanguskan dengan batang logam menyala, dicabik-cabik oleh binatang buas dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Di Spanyol, Fructuosus, penilik gereja di Tarragona dan dua diakennya, Augurius dan Eulogius, dijadikan martir dalam kobaran api.

Di Palestina, Alexander, Malchus, Priscus, dan seorang perempuan yang tidak diketahui namanya dihukum dengan cara diumpankan kepada singa-singa sete1ah dinyatakan di depan umum bahwa mereka adalah orang Kristen. Hukuman mereka dilaksanakan segera.

Pada tahun 260 M, anak Valerian, Gallienus, menggantikannya. Selama pemerintahan Gallienus gereja terbebas dari penganiayaan secara umum selama beberapa tahun.

Penganiayaan Kesembilan di Bawah Aurelian (Lucius Domitius Aurelianus) (270-275 M)

Ahli sejarah mengenal Aurelian sebagai Kaisar Roma yang mengendalikan kaum barbar di seberang Sungai Rhine ke bawah pengawasan kekaisaran dan merebut kem¬bali Inggris, Prancis, Spanyol, Syria, dan Mesir menjadi bagian kekaisaran. Orang-orang Kristen mengenalnya sebagai seorang barbar lain dan penganiaya gereja Yesus Kristus.

Penilik gereja di Roma, Felix, merupakan martir pertama selama pemerintahan Aurelian. Felix dipancung di tahun 274 M.

Di Praeneste, kota yang berjarak sekitar 48 km dari Roma, seorang muda yang kaya bernama Agapetus menjual semua yang ia miliki dan memberikan uangnya kepada orang miskin. Akibatnya, sebagai orang Kristen ia ditangkap, disiksa, dan dipancung.

Aurelian dibunuh oleh pegawainya sendiri dan digantikan oleh Tacitus. Beberapa Kaisar lainnya berturut-turut memerintah: Propus, Carns, dan anak-anaknya Carnious dan Numerian. Selama pemerintahan mereka gereja aman.

Penganiayaan Kesepuluh, di Bawah Diocletian (284-305 M)

Penganiayaan sebelumnya hanya merupakan pendahuluan untuk penganiayaan di bawah Diocletian – ini adalah yang terburuk dari semuanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali agama kafir Roma kuno bukan hanya menuntun pada penganiayaan orang-orang Kristen, melainkan juga merupakan penganiayaan yang paling utama di kekaisaran Romawi.

Pada awal pemerintahannya, Diocletian bersikap lunak kepada orang-orang Kristen. Namun, beberapa orang dibunuh sebelum penganiayaan yang besar meledak. Di bawah ini ada beberapa contoh.

Di Roma, si kembar Marcus dan Marcellianus dibesarkan sebagai orang Kristen oleh tutor mereka meskipun orangtua mereka masih kafir. Kesetiaan mereka kepada Kristus membungkam argumen orang-orang yang ingin menjadikan mereka kafir dan akhirnya berakibat pada pertobatan seluruh keluarga mereka. Oleh karena iman mereka, tangan mereka diikat di atas kepala mereka di tiang dan kaki mereka dipaku di tiang. Mereka dibiarkan tetap seperti itu selama satu hari satu malam kemudian ditusuk dengan tombak.

Oleh karena keteguhan iman mereka, Zoe, istri kepala penjara, juga bertobat kepada Kristus. Tidak lama sesudahnya, ia dibunuh dengan digantung di pohon dan dibakar dengan kobaran api jerami di bawahnya. Setelah ia mati karena terbakar, banyak batu diikatkan ke sekeliling tubuhnya dan ia dilemparkan ke dalam sungai terdekat.

Faith, seorang perempuan Kristen, di Aquitaine [atau Aquitania], sebuah wilayah di Prancis selatan, diletakkan di atas batang logam menyala dan dipanggang kemudian dipancung.

Di Roma pada 287 M, Quintin dan Lucian diutus untuk memberitakan Injil ke daerah Gaul. Untuk beberapa saat mereka memberitakan Injil bersama-sama di Amiens di Prancis Utara. Kemudian Lucian pergi ke kota lain dan di sana ia menjadi martir. Quintin pergi ke Picardy dan sangat tekun dalam penginjilannya. Namun, tidak lama setelah pergi ke sana, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman. Ia mati sebagai orang Kristen. Untuk membuat kematiannya menyedihkan, tali diikatkan pada tang an dan kakinya lalu ia direntangkan dengan kerekan sampai sendi-sendinya terlepas, kemudian ia dicambuki dengan cemeti dari kawat, dituangi minyak, dan aspal mendidih di tubuhnya yang telanjang lalu api dinyalakan pada rusuk dan ketiaknya. Setelah semua siksaan ini, ia dikembalikan ke dalam penjara dan ia segera meninggal karena luka-lukanya. Batu yang berat diikatkan ke tubuhnya dan ia dilernparkan ke dalam Sungai Somme.

Pada tanggal 22 Juni 287, seorang Kristen bernama Alban menjadi martir pertama di Inggris. Kota St. Alban di daerah Hertfordshire diberi nama sesuai namanya. Alban sebe1umnya adalah orang kafir, tetapi pelayan Kristen yang bernama Amphibalus meyakinkannya tentang kebenaran Kristus. Ketika Amphibalus dicari penguasa karena agamanya, Alban menyembunyikannya di rumahnya. Ketika para prajurit di sana mencari-carinya, Alban berkata bahwa ia adalah Amphibalus untuk memberi waktu baginya untuk melepaskan diri. Kebohongan itu diketahui dan gubernur memerintahkan agar Alban dicambuki kemudian dipancung.

Bede yang Dimuliakan, teolog dan ahli sejarah Anglo-Saxon yang menulis the Ecclesiastical History of English Nation pada tahun 731 M menyatakan bahwa pelaksana hukuman Alban tiba-tiba bertobat menjadi Kristen dan memohon kepada Alban supaya diizinkan mati baginya atau bersamanya. Ia diberi izin untuk mati bersamanya dan mereka berdua dipancung oleh prajurit yang dengan suka re1a bertindak sebagai pelaksana hukuman.

Selama pemerintahan Diocletian, Galerius, anak angkat dan penerusnya, di¬hasut oleh ibunya yang adalah orang kafir yang fanatik agar meyakinkan Kaisar agar menyingkirkan kekristenan dari kekaisaran Romawi.

Hari yang dijadwalkan untuk memulai pekerjaan berdarah adalah 23 Februari 303. Hal itu dimulai di Nicomedia, ibukota Kekaisaran Romawi Timur pada zaman Diocletian. Pad a pagi-pagi hari itu, kepala polisi, sejumlah besar petugas, dan asisten mereka berjalan menuju gereja utama Kristen lalu memaksa membuka pintunya dan merobohkan bangunan itu kemudian mem¬bakar semua buku-buku kudusnya.

Diocletian dan Galerius menyertai mereka untuk menyaksikan awal dari akhir agama Kristen. Oleh karena tidak puas dengan pembakaran buku-buku itu, mereka meratakan bangunan itu dengan tanah. Setelah itu, Diocletian mengeluarkan keputusan bahwa semua gereja dan buku Kristen harus dihancurkan serta semua orang Kristen ditangkap sebagai pengkhianat terhadap kekaisaran.

Ketika keputusan itu ditempelkan di tempat-tempat umum, seorang Kristen yang berani segera merobeknya dan mence1a nama Kaisar karena sikapnya yang tidak adil. Oleh karena sikap kebenciannya yang terbuka kepada Kaisar, ia ditangkap, disiksa, dan dibakar sampai mati.

Setiap orang Kristen di Nicomedia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Untuk menentukan kepastian dan kekerasan hukuman mereka, Galerius dengan diam-diam memerintahkan agar istana kaisar dibakar dan orang-orang Kristen disalahkan sebagai pe1akunya. Sejak itu penganiayaan secara umum dimulai di seluruh kekaisaran dan berlangsung se1ama 10 tahun. Selama itu ribuan orang Kristen menjadi martir. Tidak peduli berapa pun umur dan jenis kelamin mereka, tidak ada seorang pun yang dikecualikan. Pad a tahun 286 M, Diocletian membagi kerajaan menjadi dua Timur dan Barat sebagai tindakan untuk menguasai wilayah itu dengan lebih efektif dan penganiayaan yang hebat terjadi di Timur, yaitu di bawah kekuasaannya. Pada tahun 293 M, ia menjadikan Aurelius Valerius Constantius, ayah Konstantinus, sebagai kaisar di wilayah Barat atas Gaul dan Inggris.

Nama “Kristen” menjadi nama yang dibenci di antara orang-orang kafir dan siapa pun yang memikul nama itu tidak menerima be1as kasihan dari mereka. Mereka sekali lagi disalahkan atas setiap bencana dan nasib buruk yang dialami orang-orang kafir. Kebohongan terburuk dan cerita yang paling tidak masuk akal bisa dikisahkan ten tang mereka, dan dengan cepat dipercayai. Bentuk siksaan yang mereka rancang jauh melampaui imajinasi.

Banyak rumah orang Kristen yang dibakar api dan se1uruh keluarga mereka ikut terbakar di dalamnya. Batu-batu yang be rat digantungkan di leher banyak orang dan mereka diikat bersama-sama lalu dimasukkan ke dalam Laut Marmara. Alat perentang, cambuk, api, pedang, belati, salib, racun, dan kelaparan sering kali digunakan secara individual maupun kolektif. Di daerah Phrygia, sebuah kota yang semua penduduknya Kristen dibakar lalu semua penduduknya didorong ke dalam kobaran api sehingga binasa.

Akhirnya sete1ah capai dengan pembantaian, beberapa gubernur provinsi memohon kepada Kaisar agar kekejaman itu dihentikan karena tindakan di beberapa wilayah Romawi itu tidak tepat. Jadi, banyak orang Kristen yang diselamatkan dari kematian, tetapi dipotong tangan atau kakinya sedemikian rupa untuk membuat hidup mereka memilukan. Banyak orang yang dipotong te1inganya, dikerat hidungnya, dicungkil satu atau kedua matanya, dilepaskan tulangnya dari sendinya, dan dibakar dagingnya di tempat-tempat yang mencolok sehingga mereka ditandai se1amanya sebagai orang Kristen.

Seperti halnya semua penganiayaan umum, hanya beberapa cerita yang bisa dikisahkan, tetapi mewakili ribuan orang yang dianiaya tanpa belas kasihan dan mati dengan cara yang mengerikan.

Sebastian adalah kepala penjaga Kaisar di Roma. Selama masa penganiayaan karena ia menolak untuk menyangkal imannya kepada Kristus dan menyembah berhala, Diocletian memerintahkan agar ia ditembak dengan panah, yang dilakukan sampai ia dianggap sudah mati. Ketika beberapa orang Kristen muncul untuk mengambil tubuhnya dan menguburkannya, mereka melihat tanda-tanda kehidupan padaaya dan segera membawanya ke tempat yang aman lalu ia pulih dari luka -lukanya. Terlepasnya dari kematian hanya berlangsung singkat. Segera sete1ah bisa berjalan, ia mendekati Dioc1etian di jalan-jalan, menegurnya atas kekejaman, dan ketidakadilannya terhadap orang-orang Kristen. Meskipun eerkejut karena melihat Sebastian masih hidup, Kaisar segera memerintahkan agar ia ditangkap lalu dibawa ke temp at eksekusi dan dipukuli sampai mati. Untuk mencegah agar orang-orang Kristen tidak menemukan tubuhnya kali ini, ia memerintahkan agar tubuhnya dilemparkan ke saluran pem¬buangan di Roma. Namun Lucinda, seorang perempuan yang saleh, menemukan cara untuk mengambilnya dari saluran pembuangan dan menguburkannya di katakombe di antara tubuh-tubuh para martir lainnya.

Vitus diajar prinsip-prinsip kekristenan oleh seorang perawat yang mernbesarkannya. Ketika ayahnya, Hylas, yang kafir menemukan hal ini, ia berusaha mempertobatkan ia ke kepercayaan kafir, tetapi gagal untuk meredakan kemarahan dewa-dewanya atas penghinaan yang dilakukan anaknya kepada dewa mereka, ia mengurbankan Virus kepada mereka pada tanggal 14 Juni 303.

Orang Kristen yang baik, Victor, menghabiskan banyak waktu mengunjungi orang-orang sakit dan lemah lalu memberi banyak uang kepada orang-orang miskin. Oleh karena dikenalluas sebagai orang Kristen yang senang beramal, ia segera mendapat perhatian Kaisar dan ditangkap lalu diperintahkan untuk diikat, diseret sepanjang jalan, dicambuki, dan dilempari batu oleh orang-orang kafir sepanjangjalan. Keteguhan imannya dicela sebagai kebande1an dan ia diperintahkan untuk direntang dengan alat perentang lalu ia terus disiksa sementara perentangan dilakukan. Victor menahan siksaan itu dengan keberanian yang besar dan ketika para penyiksanya merasa kecapaian dengan tindakan mereka, mereka mernasukkan ia ke dalam sel, Di sana, ia memberitakan Kristus kepada sipir penjara dan tiga di antara mereka, Alexander, Longinus, dan Felician menerima Kristus.

Ketika berita ini sampai pada Kaisar, ia memerintahkan ketiga sipir penjara itu pergi ke blok pe1aksana hukuman. Di sana mereka dipancung. Victor dibawa kembali ke alat perentang dan dipukuli dengan pen tung kemudian dikembalikan ke penjara. Kali ketiga ia diperiksa, mezbah kafir dengan berhala di atasnya dibawa masuk dan ia diberi dupa lalu diperintahkan untuk mempersembahkan kurban kepada berhala itu. Oleh karena marah, Victor menghentakkan kakinya ke mezbah itu dan menggulingkannya. Hal ini membuat marah sang Kaisar, yang hadir di situ sehingga ia memerintahkan agar kaki Victor dipotong. Ia kemudian dilemparkan ke dalam gilingan gandum dan diremukkan di bawah batu penggilingan itu.

Suatu kali ketika Maximus, gubernur provinsi Silisia, berada di Tarsus, tiga orang Kristen, Tarchus, Probus, dan Andronicus dibawa ke hadapannya dan berulang-ulang disiksa dan dinasihati untuk menyangkal iman mereka kepada Kristus. Ketika mereka tidak mau, mereka dikirimkan ke amphitheater untuk dieksekusi. Di sana beberapa binatang yang kelaparan dilepaskan untuk menyerang orang-orang Kristen, tetapi tidak satu pun yang mau menyerang. Penjaga hewan itu kemudian memasukkan singa betina yang ganas dan beruang yang besar yang telah membunuh tiga orang pada hari yang sarna, tetapi kedua binatang itu menolak menyerang mereka. Oleh karena frustrasi dalam usahanya menyiksa mereka sampai mati dengan gigi dan eakar binatang buas, Maximus menyuruh membunuh mereka dengan pedang.

Romanus adalah diaken gereja di Kaisarea. Ditangkap di sana, ia dibawa ke Antiokhia dan ia dijatuhi hukuman karena imannya, dieambuki, direntang tubuhnya, dieabik dengan kaitan, dipotong dengan pisau di tubuh, dan wajahnya, giginya dicacbut, rambutnya dicabut dari kepalanya kemudian dicekik sampai mati.

Susanna yang saleh, yang adalah keponakan Caius, penilik gereja di Roma, diperintahkan oleh Diocletian untuk menikah dengan saudaranya yang kafir yang terhormat. Oleh karena menolak, ia dihukum paneung.

Peter, sida-sida dan budak Kaisar, menjadi orang Kristen dengan kesopanan dan kerendah-hatian yang besar. Ketika Kaisar mendengar hal ini, ia memerintahkan Peter untuk diikat ke batang logam menyala lalu dipanggang di atas api yang keeil sampai mati. Hal itu membutuhkan waktu beberapa jam.

Eulalia adalah perempuan muda yang sangat manis dari keluarga Kristen Spanyol. Ketika ia ditangkap karena menjadi orang Kristen, petugas sipil berusaha mempertobatkan ia pada paganisme, tetapi ia begitu merendahkan dewa -dewa kafir sehingga ia sangat marah lalu memerintahkan agar ia disiksa dengan siksaan yang sangat berat. Selama penyiksaannya, kaitannya disisipkan ke dalam rusuknya kemudian ditarik menembus dagingnya dan dadanya dibakar sampai hangus. Penderitaannya sangat hebat; akhirnya ia mati. Ini terjadi pada bulan Desember 303.

Pada tahun 304, gubernur Tarragona, di Spanyol, memerintahkan Valerius, seorang penilik, dan Vincent, ditangkap, dijepit dengan rantai, dan dipenjara. Kedua orang itu berpegang erat pada iman mereka, tetapi karena alasan yang tidak diketahui penilik itu hanya dibuang dari Tarragona sementara diakennya menjalani siksaan yang mengerikan. Ia diikat pada alat perentang dan direntang sampai sendi-sendinya terlepas, kaitan disisipkan ke bagian dagingnya yang lunak kemudian ditarik, kemudian ia diikat pada batang logam menyala yang memiliki paku besar pada ujungnya, yang ditusukkan ke dalam dagingnya sementara api dinyalakan di bawahnya. Oleh karena tidak satu pun siksaan itu yang bisa mem¬bunuhnya atau mengubah imannya yang teguh, ia dimasukkan ke dalam se1 penjara yang kotor yang memiliki banyak batu api yang tajam dan pecahan kaca yang menutupi lantainya. Oleh karena siksaan itu ia meninggal pada 22 J anuari 304.

Kedahsyatan dan kekejaman pengani¬ayaan orang Kristen mencapai puncaknya pada tahun 304 M, tahun sebe1um Dioc1etian mundur sebagai Kaisar Romawi. Seolah-olah orang kafir merasakan bahwa perubahan akan terjadi dan mereka ditentukan untuk menimbulkan kesusahan sehebat mungkin pada orang-orang Kristen semampu mereka sebe1um waktu penganiayaan se1esai. Sekali lagi, kita hanya bisa mengisahkan beberapa cerita tentang orang-orang yang menjadi martir pada tahun itu.

Di Afrika, seorang imam Kristen bernama Saturninus disiksa, dimasukkan ke dalam penjara dan menderita ke1aparan sampai mati. Keempat anaknya mengalami nasib yang sama.

Di Tesalonika, di wilayah yang kemudian menjadi provinsi Makedonia di Romawi, tiga bersaudara Agrape, Chionia, dan Irene, ditangkap dan dibakar sampai mati pada 25 Maret 304. Irene diberi perlakuan khusus oleh gubernur yang tertarik pada kecantikannya. Ketika ia menegur rayuannya, ia memerintahkan agar ia ditelanjangi dan dipertontonkan di jalan-jalan kota, lalu dalam keadaan itu, ia digantung di tembok kota dan dibakar .

Empat bersaudara, Victorius, Carpophorus, Severus, dan Severianus, dipekerjakan di kantor tinggi di kota Roma. N amun, ketika terdengar bahwa mereka adalah orang-orang Kristen dan berbicara menentang penyembahan berhala, mereka ditangkap dan dicambuki dengan cemeti seperti sembilan ekor kucing yang memiliki bola timah yang diikatkan pada bagian ujungnya. Pencambukan itu begitu dahsyat sehingga keempat bersaudara itu mati di tempat pencambukan.

Timothy, seorang diaken gereja di provinsi Mauritania di Romawi, dan Maura, baru saja menikah selama beberapa minggu ketika penganiayaan menimpa mereka dan mereka ditangkap karena mereka adalah orang Kristen. Segera sete1ah mereka ditangkap, mereka dibawa ke depan gubernur provinsi, Arrianus, yang menyadari bahwa Timothy bertanggung jawab meme1ihara Kitab Suci di gerejanya. Ia memerintahkan kepada Timothy untuk menyerahkan Alkitab kepadanya untuk dibakar. Kepada perintah itu Timothy menjawab, “[ika saya memiliki anak, saya akan menyerahkan mereka kepadamu lebih dahulu untuk dipersembahkan daripada saya harus menyerahkan firman Allah.”

Marah karena mendengar jawaban ini, Arrianus memerintahkan agar mata Timothy dibakar dengan besi yang panas menyala dan berkata, “Buku itu tidak akan berguna bagimu sebab kamu akan tidak memiliki mata untuk membaca buku itu.”

Keberanian Timothy dalam menjalani penderitaan yang mengerikan membuat Arrianus begitu marah sehingga ia memerintahkan agar ia digantung kakinya dengan gantungan beban pada lehernya dan mulutnya disumbat, sambil berpikir bahwa itu akan menaklukkan keteguhan imannya.

Istri Timothy, Maura, yang dipaksa untuk melihat semua ini, meminta kepadanya untuk menyangkal, demi istrinya, supaya ia tidak hams menyaksikan siksaan seperti itu. Namun, ketika sumbat itu dilepaskan dari mulut Timothy sehingga ia bisa menjawab permohonan istrinya yang mendesak, bukannya menyetujui permintaannya, ia justru menuduh istrinya memiliki cinta yang salah dan menyatakan tekadnya untuk mati demi imannya kepada Kristus. Akibatnya, Maura memutuskan untuk mengikuti keberanian suaminya dan bersedia menyertai atau mengikutinya masuk dalam kemuliaan. Oleh karena gagal menghentikan keputusan bam Maura, Arrianus memerintahkan agar ia diberi siksaan yang berat. Timothy dan Maura disalibkan bersebelahan.

Sabinus, Uskup Assisium di provinsi Tuscany, menolak memberikan kurban kepada Jupiter, dewa tertinggi Romawi, dan menyingkirkan berhala itu darinya. Melihat itu, gubernur menyuruh tangannya yang mendorong berhala itu untuk dipotong. Namun, ketika berada di penjara, Sabinus mempertobatkan gubernur itu dan keluarganya menjadi Kristen. Oleh karena pengakuan atas iman kepada Allah yang sejati yang bam mereka temukan, mereka semua dieksekusi. Segera setelah itu, Sabinus dicambuki sampai ia mati. Hal itu terjadi pada bulan Desember 304.

Di Phoenicia, tempat ia dilahirkan, Pamphilus terkenal sebagai seorang yang sangat cerdas dan berpendidikan tinggi sehingga ia disebut Origen kedua. Ia menjadi anggota imam di Kaisarea, ibukota Yudea Romawi, yang ditetapkan sebagai perpustakaan umum, mengabdikan dirinya untuk setiap amal dan pelayanan Kristen. Sebagai bagian dari pekerjaannya, ia menyalin bagian terbesar dari tulisan Origen dengan tangannya sendiri yang dibantu oleh imam lain, Eusebius, menghasilkan salinan Perjanjian Lama yang benar, yang sebelumnya mengalami banyak kesalahan fatal karena keteledoran atau ketidaktahuan ahli kitab sebelumnya. Oleh karena melakukan pekerjaan semacam itu, ia ditangkap, disiksa, dan dihukum mati.

Pada tahun 305 M, Diocletian mengundurkan diri sebagai kaisar tertinggi Romawi dan menyerahkan kekaisaran kepada Aurelius Valerius Constantius, yang telah ia jadikan kaisar di Barat pada tahun 293 M dan Gaius Galerius Valerius Maximianus, yang adalah menantunya dan yang sudah memerintah sebagai kaisar bersamanya di Timur. Constantius seorang yang sikapnya lembut; watak dan karakternya baik. Di bawah pemerintahannya, orang-orang Kristen di Barat mengalami masa kelegaan untuk pertama kalinya dari penganiayaan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun. Namun di Timur, penganiayaan yang kejam masih berlanjut di bawah kekuasaan Galerius sebab dialah yang menghasut Diocletian untuk melakukan penganiayaan besar yang akan menghapus gereja Kristen dari muka bumi. Namun, ia gagal melakukannya, seperti juga semua penganiayaan lainnya sebab Kristus akan mendirikan gereja-Nya di atas bumi sampai Dia datang kembali.

Kegagalan orang-orang kafir untuk menghancurkan gereja Kristus merupakan awal dari berakhirnya penganiayaan di Kekaisaran Romawi sebab Allah memiliki pemenang yang segera akan Dia tempatkan sebagai kaisar atas seluruh Romawi.

Disalin dari :
http://www.sarapanpagi.org/kisah-para-martir-vt1226.html
John Foxe, Foxe’s Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi, 2001.
http://www.hrionline.ac.uk/johnfoxe/intro.html
Online Version : http://www.ccel.org/f/foxe/martyrs/home.html
Atau di http://www.the-tribulation-network.com/ … rs_toc.htm





Tags: Alkitab, Bible, Christianity, Did you know, inspiration, kesaksian, kisah, martir, story


About the Author

Male,24 y.o by 2011,funny,healthy,single :p





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Back to Top ↑